MANAJEMEN PEMBELAJARAN
TUGAS MANAJEMEN KELAS DI SD

OLEH :
TIARA MONALIZA
1620247
DOSEN PENGAMPU
: YESSI RIFMASARI M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN ADZKIA PADANG
MANAJEMEN PEMBELAJARAN
1.
Manajemen Pembelajaran
Untuk
mewujudkan manajemen kelas di Sekolah Dasar, lingkungan fisik yang
menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas
pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan
pengajaran. Manajemen kelas di Sekolah Dasar tidak hanya pengaturan belajar,
fasilitas fisik dan rutinitas, tetapi menyiapkan kondisi kelas dan lingkungan
sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana belajar yang efektif. Oleh karena
itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara baik, dan menciptakan iklim
belajar yang menunjang.
Guru
harus memahami beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar anak SD, supaya
tercipta proses belajar yang baik. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
kondisi fisik, sosio emosional dan organisasional. Semua faktor ini harus
difahami oleh guru agar tujuan KBM dapat tercapai dengan sebaik-baiknya, atau
setiap kegiatan belajar mengajar, baik yang sifatnya instruksional maupun
tujuan pengiring akandapat dicapai secara optimal. Lingkungan fisik yang
memenuhi syarat, mendukung meningkatnya intensitas proses KBM siswa di SD. Di
samping itu juga mempunyai pengaruh terhadap pencapaian tujuan pengajaran di
SD. Setiap proses belajar mengajar kondisi ini harus direncanakan dan
diusahakan oleh guru secara sengaja agar dapat dihindarkan kondisi yang
dirugikan, dan mengembangkan kepada kondisi yang kondusif. Kondisi fisik di
Taman Kanak-kanak senantiasa nyaman, antara lain ruangan harus diusahakan
memenuhi syarat. Ukuran ruangannya harus cukup; memberi keleluasaan bergerak;
cahaya dan sirkulasi udara baik dan pengaturan perabot harus tertata rapih agar
siswa bisa bergerak bebas.
2.
Tujuan Manajemen Pembelajaran
Menurut Erwinsyah (dalam
jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol.5 No. 1) tujuan manajemen pembelajaran
ada 2 yaitu :
a. Tujuan utama
manajemen pembelajaran adalah untuk menghemat waktu dan tenaga. Manajemen
pembelajaran juga bertujuan agar setiap siswa yang terdapat dalam suatu kelas
dapat belajar dan bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pembelajaran
yang efektif dan efisien.
b. Tujuan khusus
manajemen pembelajaran dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam
menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi yang memungkinkan siswa
belajar, serta membatu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Menurut Husain
Usman.2006 tujuan manajemen pembelajaran ialah :
a. Terwujudnya suasana belajar dan
proses pembelajaran yang aktf, inovtif, kreatif, efektif dan menyenangkan (
PAIKEM).
b. Terciptanya peserta didik yang aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuata spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia.
3.
Kebijakan tentang Manajemen Pembelajaran
a.
Perencanaan Kebijakan
Perencanaan merupakan usaha yang dilakukan kepala sekolah untukmengembangkan
strategi yang akan dilaksanakan untuk mengubah kondisi pembelajaran yang lebih
efektif dan efisien.
b. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemecahan masalah dengan
menentukan pilihan dari beberapa alternatifuntuk menetapkan suatu tindakan
dalam mencapai tujaun yang diinginkan. Keputusan yang diambil bersifat
terstruktur dan tidak terstruktur. Keputusan yang terstruktur dapat diambil
seperti informasi, data, dan fakta secara lengkap untuk memecahkan masalah sesuai
prosedur. Sedangkan keputusan yang tidak terstruktur merupan keputusan yang
diambil seperti data dan informasi yang tidak tersedia untuk pengambilan
keputusan.
c. Kebijakan
Sekolah
Membangun komunitas belajar yang produktif dan memotivasi siswa agar terlibat
dalam kegiatan bermakna adalah tujuan utama pengajaran. Sebaliknya guru – guru
yang efektif menerapkan berbagai sebuah aspek permanen kelasnya yang kebutuhan
psikologis siswam- siswanya terpenuhi bahwa mereka menemukan kegiatan belajar
yang menarik dan bermakna serta mereka yakin akan berhasil.
4. Peran
Guru Dalam Manajemen Pembelajaran
Ali
Saifullah (2004: 9) menyatakan guru adalah “ mengabdikan seluruh kehidupannya
bagi perkembangan pendidikan anak”. Menurut Ahmad Tafsir (2007 : 72) guru
adalah “pendidik yang memberikan pelajaran kepada murid, biasanya adalah yang
memegang mata pelajaran disekolah”. Tugas dan peranan guru sebagai pendidik
professional sangat kompleks, tidak terbatas saat berlangsungnya interaksi
edukatif di kelas yang disebut proses belajar mengajar. Guru juga berfungsi
sebagai administrator, evaluator, konselor, dan lain – lain sesuai sepuluh
kompetensi yang dimilikinya.
Menurut
James B. Brow seperti yang dikutip oleh Sardiman A.M. (1990:142), mengemukakan
bahwa tugas guru dan peranan guru antara lain : menguasai dan mengembangkan
materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari – hari,
mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. Tugas guru dalam proses belajar
mengajar meliputi tugas pendagogik dan tugas administrasi. Tugas pendagogis
adalah tugas membantu, membimbing dan memimpin.
Menurut
pendapat Pullias danYoung (1988), Manan (1991) serta Yelon dan Weistein (1997)
dapat di definisikan 10 peran guru yaitu sebagai pendidik, pengajar,
pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharuan, teladan atau model, pendorong
kreativitas, aktor, emansipator, evaluator.
1) Guru Sebagai Pendidik Guru harus memiliki
standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawah, wibawa,
mandiri, dan disiplin
2) Guru
Sebagai Pengajar Guru membantu siswa yang sedang berkembang untuk mempelajari
sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi
standar yang dipelajari.
3) Guru
Sebagai Pembimbing Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan
(Guide), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bcrtanggung jawab atas
kelancaran perjalanan itu.
Dalam
melakukan perjalanannya, guru memerlukan empat kompetensi dalam menjalankannya.
(1) guru harus melakukan tujuan (2) Guru harus melihat keterlibatan peserta
didik dalam pembelajaran, (3) Guru harus memaknai pembelajaran, (4) Guru harus
melaksanakan penilaian.
4) Guru Sebagai Pelatih Guru berperan sebagai
pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi
dasar, sesuai dengan potensi masing-masing.
5) Guru
Sebagai Penasehat Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi
orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan
dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.
6) Guru
Sebagai Model dan Teladan Guru sebagai model dan teladan bagi peserta didik.
Menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan serta bisa
menjadi panutan dan contoh yang baik untuk peserta didiknya.
7) Guru
sebagai Pendorong Kreativitas Kreativitas merupakan hal yang sangat penting
dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses
kreativitas tersebut.
8) Guru
Sebagai Aktor
Guru
harus melakukan apa yang ada dalam naskah yang telah disusun dengan
mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan kepada penonton. Penampilan yang
bagus dari seorang aktor akan mengakibatkan para penonton tertawa, mengikuti
dengan sungguh-sungguh, dan bisa pula menangis terbawa oleh penampilan sang
aktor. Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang
dalam yang akan mengarahkan kegiatannya.
9) Guru
Sebagai Emansipator
Guru
mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap orang. Guru harus
mengenal kebutuhan peserta didik tersebut akan pengalaman, pengakuan dan
dorongan. Dia tahu bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali
membebaskan peserta didik
10) Guru Sebagai Evaluator
Tidak
ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan
kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan
pembelajaran oleh peserta didik. Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan
dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau nontes.
Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang
jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak
lanjut.
5.
Kode Etik Guru
Kode etik guru Indonesia dapat
dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru yang
tersusun dengan baik dan sistematik dalam suatu sistem yang utuh dan bulat
(Soetjipto dan Kosasi, 1999: 34). Kode etik guru di Indonesia antara lain:
a. Guru berbakti
membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang
berjiwa Pancasila.
b. Guru memiliki dan
melaksanakan kejujuran profesional
c. Guru berusaha
memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan
dan pembinaan.
d. Guru menciptaakan
suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar
mengajar.
e. Guru memelihara
hubungan baik dengan orantua peserta didik dan masyarakt sekitarnya untuk
membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan.
f. Guru secara pribadi
bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya
g. Guru secara pribadi
bersama-sama memelihara dan meningkatkn mutu organisasu PGRI sebagai sarana
perjuangan dan pengabdian.
h. Guru
melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.
DAFTAR RUJUKAN
Erwinsyah, Alfian. 2017. Manajemen Pembelajaran dalam Kaitannya
dengan
Peningkatan
Kualitas Guru, Jurnal Pendidikan Islam Vol.5 No.1. Diakses
pada hari Selasa, 30 Juli 2019 pukul
13.52 WIB
Husaini usman.2006. Manajemen Teori, Praktik Dan Riset Pendidkan. Jakarta:Bumi Aksara
Mujtahid.
2010. Manajemen Kelas. Jakarta: PT
Bumi Aksara
Soetjipto dan Kosasi. 1999. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka
Cipta
Tafsir, Ahmad.2007.Ilmu Pendidikan Islam.Bandung:
Rosdakarya
Bagus dan bermanfaat
BalasHapussangat bermanfaat sekali kak
BalasHapus