MANAJEMEN PEMBELAJARAN


TUGAS MANAJEMEN KELAS DI SD



OLEH :
TIARA MONALIZA
1620247



DOSEN PENGAMPU : YESSI RIFMASARI M.Pd


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA PADANG
2019/2020


MANAJEMEN PEMBELAJARAN
1.             Manajemen Pembelajaran
Untuk mewujudkan manajemen kelas di Sekolah Dasar, lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Manajemen kelas di Sekolah Dasar tidak hanya pengaturan belajar, fasilitas fisik dan rutinitas, tetapi menyiapkan kondisi kelas dan lingkungan sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana belajar yang efektif. Oleh karena itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara baik, dan menciptakan iklim belajar yang menunjang.
Guru harus memahami beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar anak SD, supaya tercipta proses belajar yang baik. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain: kondisi fisik, sosio emosional dan organisasional. Semua faktor ini harus difahami oleh guru agar tujuan KBM dapat tercapai dengan sebaik-baiknya, atau setiap kegiatan belajar mengajar, baik yang sifatnya instruksional maupun tujuan pengiring akandapat dicapai secara optimal. Lingkungan fisik yang memenuhi syarat, mendukung meningkatnya intensitas proses KBM siswa di SD. Di samping itu juga mempunyai pengaruh terhadap pencapaian tujuan pengajaran di SD. Setiap proses belajar mengajar kondisi ini harus direncanakan dan diusahakan oleh guru secara sengaja agar dapat dihindarkan kondisi yang dirugikan, dan mengembangkan kepada kondisi yang kondusif. Kondisi fisik di Taman Kanak-kanak senantiasa nyaman, antara lain ruangan harus diusahakan memenuhi syarat. Ukuran ruangannya harus cukup; memberi keleluasaan bergerak; cahaya dan sirkulasi udara baik dan pengaturan perabot harus tertata rapih agar siswa bisa bergerak bebas.
2.             Tujuan Manajemen Pembelajaran
Menurut Erwinsyah (dalam jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol.5 No. 1) tujuan manajemen pembelajaran ada 2 yaitu :
a.       Tujuan utama manajemen pembelajaran adalah untuk menghemat waktu dan tenaga. Manajemen pembelajaran juga bertujuan agar setiap siswa yang terdapat dalam suatu kelas dapat belajar dan bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.
b.       Tujuan khusus manajemen pembelajaran dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi yang memungkinkan siswa belajar, serta membatu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Menurut Husain Usman.2006 tujuan manajemen pembelajaran ialah :
a.       Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktf, inovtif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAIKEM).
b.      Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuata spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia.
3.                  Kebijakan tentang Manajemen Pembelajaran
a.        Perencanaan Kebijakan
Perencanaan merupakan usaha yang dilakukan kepala sekolah untukmengembangkan strategi yang akan dilaksanakan untuk mengubah kondisi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.

b.      Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternatifuntuk menetapkan suatu tindakan dalam mencapai tujaun yang diinginkan. Keputusan yang diambil bersifat terstruktur dan tidak terstruktur. Keputusan yang terstruktur dapat diambil seperti informasi, data, dan fakta secara lengkap untuk memecahkan masalah sesuai prosedur. Sedangkan keputusan yang tidak terstruktur merupan keputusan yang diambil seperti data dan informasi yang tidak tersedia untuk pengambilan keputusan.

c.        Kebijakan Sekolah

Membangun komunitas belajar yang produktif dan memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan bermakna adalah tujuan utama pengajaran. Sebaliknya guru – guru yang efektif menerapkan berbagai sebuah aspek permanen kelasnya yang kebutuhan psikologis siswam- siswanya terpenuhi bahwa mereka menemukan kegiatan belajar yang menarik dan bermakna serta mereka yakin akan berhasil.
4.      Peran Guru Dalam Manajemen Pembelajaran
Ali Saifullah (2004: 9) menyatakan guru adalah “ mengabdikan seluruh kehidupannya bagi perkembangan pendidikan anak”. Menurut Ahmad Tafsir (2007 : 72) guru adalah “pendidik yang memberikan pelajaran kepada murid, biasanya adalah yang memegang mata pelajaran disekolah”. Tugas dan peranan guru sebagai pendidik professional sangat kompleks, tidak terbatas saat berlangsungnya interaksi edukatif di kelas yang disebut proses belajar mengajar. Guru juga berfungsi sebagai administrator, evaluator, konselor, dan lain – lain sesuai sepuluh kompetensi yang dimilikinya.
Menurut James B. Brow seperti yang dikutip oleh Sardiman A.M. (1990:142), mengemukakan bahwa tugas guru dan peranan guru antara lain : menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari – hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. Tugas guru dalam proses belajar mengajar meliputi tugas pendagogik dan tugas administrasi. Tugas pendagogis adalah tugas membantu, membimbing dan memimpin.
Menurut pendapat Pullias danYoung (1988), Manan (1991) serta Yelon dan Weistein (1997) dapat di definisikan 10 peran guru yaitu sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharuan, teladan atau model, pendorong kreativitas, aktor, emansipator, evaluator.
1)       Guru Sebagai Pendidik Guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawah, wibawa, mandiri, dan disiplin
2)      Guru Sebagai Pengajar Guru membantu siswa yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari.
3)      Guru Sebagai Pembimbing Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (Guide), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bcrtanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu.
Dalam melakukan perjalanannya, guru memerlukan empat kompetensi dalam menjalankannya. (1) guru harus melakukan tujuan (2) Guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, (3) Guru harus memaknai pembelajaran, (4) Guru harus melaksanakan penilaian.
4)       Guru Sebagai Pelatih Guru berperan sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan potensi masing-masing.
5)      Guru Sebagai Penasehat Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.
6)      Guru Sebagai Model dan Teladan Guru sebagai model dan teladan bagi peserta didik. Menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan serta bisa menjadi panutan dan contoh yang baik untuk peserta didiknya.
7)      Guru sebagai Pendorong Kreativitas Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut.
8)      Guru Sebagai Aktor
Guru harus melakukan apa yang ada dalam naskah yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan kepada penonton. Penampilan yang bagus dari seorang aktor akan mengakibatkan para penonton tertawa, mengikuti dengan sungguh-sungguh, dan bisa pula menangis terbawa oleh penampilan sang aktor. Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya.
9)      Guru Sebagai Emansipator
Guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap orang. Guru harus mengenal kebutuhan peserta didik tersebut akan pengalaman, pengakuan dan dorongan. Dia tahu bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik
10)   Guru Sebagai Evaluator
Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik. Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau nontes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.
5.        Kode Etik Guru
Kode etik guru Indonesia dapat dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru yang tersusun dengan baik dan sistematik dalam suatu sistem yang utuh dan bulat (Soetjipto dan Kosasi, 1999: 34). Kode etik guru di Indonesia antara lain:
a.       Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
b.      Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional
c.       Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
d.      Guru menciptaakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.
e.       Guru memelihara hubungan baik dengan orantua peserta didik dan masyarakt sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan.
f.       Guru secara pribadi bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya
g.      Guru secara pribadi bersama-sama memelihara dan meningkatkn mutu organisasu PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
h.      Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

DAFTAR RUJUKAN

                                          
Erwinsyah, Alfian. 2017. Manajemen Pembelajaran dalam Kaitannya dengan
Peningkatan Kualitas Guru, Jurnal Pendidikan Islam Vol.5 No.1. Diakses
pada hari Selasa, 30 Juli 2019 pukul 13.52 WIB

Husaini usman.2006. Manajemen Teori, Praktik Dan Riset Pendidkan. Jakarta:Bumi Aksara

Mujtahid. 2010. Manajemen Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Soetjipto dan Kosasi. 1999. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta

Tafsir, Ahmad.2007.Ilmu Pendidikan Islam.Bandung: Rosdakarya
                                        

Komentar

Posting Komentar