RINGKASAN MATERI KEL 9, 10, dan 11


 TUGAS MANAJEMEN KELAS DI SD
TENTANG
Hasil Ringkasan Diskusi Kelompok 9, 10 dan 11



OLEH :
TIARA MONALIZA
1620247



DOSEN PENGAMPU : YESSI RIFMASARI M.Pd


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) ADZKIA PADANG
2019


TAHAPAN PENANGGULANGAN DISIPLIN KELAS
A.    Konsep Disiplin Preventif Dan Implimentasinya Terhadap Pendidikan
Dikatakan secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk menciptakan suatu kondisi dari kondisi masa menjadi interaksi pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang mengguntungkan bagi prosese belajar mengajar. Hal ini dapat berupa tindakan, contoh pemberian informasi yang dapat diberikan kepada siswa sehingga akan berkembang motifasi yang tinggi, atau agar motifasi yang sudah baik itu tidak dinodai oleh tindakan siswa yang menyimpang sehingga mengganggu proses belajar menggajar dikelas.
Keterampilan yang behubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran ini, dapat ditunjukkan melalui sikap tanggap guru, bahwa guru hadir bersama anak didik. Guru tau kegiatan mereka memperhatikan atau tidak seolah olah mata guru ada dibelakang kepala, sehingga guru dapat menegur mereka walaupun sedang menulis dipapan tulis.
Maka dari itu, hendaknya guru mengetahui langkah-langkah preventif (pemeliharaan kondisi belajar) dalam pengelolahan kelas. Prosedur ini akan mengikuti langkah-langkah peningkatan guru sebagai pendidik, peningkatan kesadaran siswa, penampilan sikap guru, pengenalan terhadap tingkah laku siswa, penemuan alternative pengelolaan kelas dan pembuatan kontrak social dalam proses belajar mengajar.
1.           Peningkatan kesadaran guru sebagai seorang pendidik
Dalam kedudukannya sebagai  seorang pendidik, guru harus sadar bahwa dirinya memiliki rasa’’handharbeni’’(rasa peduli terhadap kelas dengan segala isinya) dan bertanggung jawab terhadap proses belajar mengajar. Guru menyadari kebutuhan anak didik dan memiliki kemampuan dala memberi petunjuk secara jelas kepada anak didik demi kemajuan mereka dalam belajar. Pewujudan dari rasa ‘’handharbeni’’ dan tanggung jawab itu akan Nampak dalam bentuk kesatuan dari empat unsure, yaitu upaya mengubah tingkah laku, upaya mewujudkan suasana pendidikan yang mendukung, rasa cinta kasih, pegangan norma yang baku. Sebagai seorang pendidik, guru berkewajiban mengubah pergaulanya dengan siswa sehingga pergaulan itu tidak hanya berupa interaksi biasa tetapi merupakan interaksi pendidikan. Agar interaksi itu bersifat sebagai interaksi pendidikan, maka seorang guru harus dapat mewujudkan suasana yang kondusif yang mengundang siswa untuk masuk berperan serta dalam proses pendidikan.
2.      Peningkatan Kesadaran Siswa
Apabila kesadaran diri guru sebagai seorang pendidiksudah ditingkatkan, langkah kedua kemudian berusaha meningkatkan kesadaran siswa akn kedudukan dirinya dalam proses pendidikkan. Sebagai seorang sisiwa kadang-kadang tidak sadar akan kedudukannya akan organisasi disekolah. Oleh sebab itu menjadi langkah yang kedua yang harus dilakukan seorang guru adalah meningkatkan kesadaran sisiwa akan dirinya terutama tentang pertimbangan akan hak dan kewajiban. Dengan menyadari akan hak dan kewajiban tersebut diharapkan sisiwa akan mengendalikan dirinya dari tindakan dan tingkah laku yang menyimpang yang akan mencemari suasana pendidikan. Upaya penyadaran ini adalah tanggung jawab setiap guru, karna dengan kesadaran siswa yang tinggia akan peranananya sebagai anggota masyarakat sekolah, akan menimbulkan suasana yang mendukung untuk melakukan proses belajar mengajar.
3.      Penampilan sikap guru
Setelah kesadaran fungsi sorang pendidikan, dan kesadaran siswa akan kedudukan dirinya di sekolah ditingkatkan, maka upaya penciptaan suasana yang mendukung proses pendidikan harus dilakukan dengan inisiatif. Inisiatif guru itu diwujudkan dalam interaksinya dengan siswa-siawa yang dilambari dengan sikap tulus dan hangat.
4.      Pengenalan terhadap tingkah laku siswa
Langkah selanjutnya, seorang guru hendaknya mengenal tingkah laku siswa. Pengenalan akan tingkah laku ini dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas. Tingkah laku siswa yang harus dikenal adalah tingkah laku baik yang mendukung maupun yang dapat mencemarkan suasana yang diperlukan untuk terjadinya proses pendidikan. Tingkah laku tersebut dapat bersifat perseorangan ataupun kelompok.
5.      Penemuan alternatif pengelolaan kelas
Setelah seorang guru dapat menyelidiki berbagai tingkah laku siswa, baik yang mendukung maupun yang mencemarkan suasana pendidikan, maka selanjutnya berusaha menetapkan alternatif pengelolaan kelas yang akan dilakukan. Upaya pengelolaan itu diarahkan untuk mempertahankan dan menghidupkan tingkah laku siswa yang mendukung suasana pendidikan, tentunya akan berbeda dengan upaya pengelolaan kelas yang diarahkan untuk mencegah timbulnya tingkah laku yang akan mencemarkan suasana pendidikan itu.
6.            Pembuatan kontrak sosial
Langkah terakhir adalah pengaturan tingkah laku dengan menggunakan norma atau nilai. Norma atau nilai itu diharapkan akan menjadi landasan tindakan yang akan berfungsi untuk mempertahankan kehadiran tingkah laku siswa yang mendukung maupun untuk mencegah tingkah laku sosial, pada hakikatnya adalah norma yang dituangkan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tertulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Maka diperlukan rekonstruksionis interpretasi agama untuk memperbaiki hubungan peradaban modern dengan Islam.
B.      Konsep Disiplin Bersifat Kuratif Dan Implementasinya
Dikatakan secara kuratif karena dilaksanakn saat atau setelah terjadi penyimpangan pada tingkah laku siswa sehingga mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru akan berusaha menghentikan tingkah laku yang menyimpang tersebut dan kemudian mengarahkan terciptanya tingkah laku siswa yang mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar dengan baik.
Guru harus mengetahaui pusat perhatian siswa pada waktu mengikuti pelajaran dalam kelas. Apakah siswa-siswanya di kelas tekun mengikuti dan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar ataukah tidak. Dari sorot mata atau gerak-gerik mereka dapat diketahui apakah mereka sudah tertuju dan mengikuti dengan baik proses belajar mengajar ataukah malah mengganggu proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat diketahui ketika siswa ditunjuk untuk menjawab atau melakukan perintah guru, akan memberikan jawaban yang salah (dalam arti kurang komunikasi atau konsentrasi) atau terlihat terkejut. Oleh karena itu, apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan pada saat kegiatan belajar mengajar, guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku anak didik, misalnya dengan mencoba mengetahui sebab-sebab yang mengakibatkan tingkah laku anak didik yang menyimpang tadi, kemudian berusaha untuk menemukan pemecahannya.
Konsep disiplin kuratif akan meliputi langkah-langkah identifikasi masalah, analisa masalah, penetapan alternative pemecahan masalah, monitoring dan memanfaatkan umpan balik.
1.      Identifikasi masalah
Pertama- pertama seorang guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu proses kelancran pendidikan di kelas. Upaya penyelidikan terhadap tingkah laku dapat dalam arti apakah termasuk tingkah laku yang berdampak motif secara luas atau tidak, ataukah penyimpangan tingkah laku itu bersifat sesaat saja atau sering dilakukan, ataukah sekedar kebiasaan siswa.
2.            Analisa masalah
Dengan hasil penyelidikan yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan pada langkah ini yaitu suatu kegiatan yang berusaha mengetahui latar belakang serta sebab-sebab timbulnya tingkah laku yang menyimpang tersebut. Dengan cara yang demikian akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya, upaya untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan baik. Maka guru dapat menganalisanya dan berusaha menemukan pemecahannya dengan menggunakan berbagai pendekatan pemecahan masalah.


3.            Penetapan alternatif pemecahan
Mengetahui sumber masalahnya, seorang guru dapat mencoba mengkaji berbagai alternatif pemecahan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Untuk dapat memperoleh alternatif-alternatif pemecahan itu, maka ia hendaknya mengetahui berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pengelolaan kelas dan juga memahami cara-cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing-masing.
4.            Monitoring
Hal ini diperlukan karena akibat perlakuan guru itudapat saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa menyimpang itu, tetapi dapat pula tidak berakibat apa-apa atau bahkan mungkin menimbulkan tingkah laku menyimpang berikutnya yang justru lebih jauh menyimpangnya. Langkah monitoring pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat-akibat yang terjadi tersebut.
5.            Memanfaatkan umpan balik
Hasil dari kegiatan monitoring itu sebenarnya merupakan umpan balik terbaik guru yang sangat berharga, karena dengan ini ia dapat mengkaji kembali apakah alternatif tindakan yang telah dilakukan itu tepat atau tidak, atau masih perlu di sempurnakan. Hasil monitoring itu hendaknya dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakan nya untuk :
a)      Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan bila kelak menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama.
b)      Dasar dalam melakukan kegiatan pengelolaan kelas berikutnya sebagai tindak lanjut dari kegiatan pengelolaan kelas yang sudah dilakukannya sebelumnya. Hasil analisis data yang diperoleh dapat dijadikan umpan balik untuk merevisi hal-hal atau kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kendala dalam pencapainan tujuan pengajaran tersebut.

DAFTAR RUJUKAN

Asep Suryana, (2005), Makalah TECHNOLOGIES FOR RESTRUCTURED CLASSROOMS, disampaikan dalam lokakarya .Universitas Negeri Yogya.

Ekosiswoyo, R dan Rachman M. 2000. Manajemen Kelas. Semarang:  CV.IKIP Semarang Press.

MENCIPTAKAN SUASANA YANG EFEKTIF

a.      Kondisi Belajar yang  Efektif
Guru sebagai pembimbing diharapkan mampu menciptakan kondisi yang strategi yang dapat membuat peserta didik nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut. Dalam menciptakan kondisi yang baik, hendaknya guru memperhatikan dua hal: pertama, kondisi internal merupakan kondisi yang ada pada diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatan, keamanannya, ketentramannya, dan sebagainya. Kedua, kondisi eksternal yaitu kondisi yang ada di luar pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan serta keadaan lingkungan fisik yang lain.
  Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya ruang belajar harus bersih, tidak ada bau-bauan yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, ruangan cukup terang, tidak gelap dan tidak mengganggu mata, sarana yang diperlukan dalam belajar yang cukup atau lengkap. Dalam mewujudkan kondisi pembelajaran yang efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:

1.      Melibatkan Siswa secara Aktif
Aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, antara lain :
a.              Aktivitas visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen.
b.              Aktivitas lisan, seperti bercerita, tanya jawab.
c.              Aktivitas mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru, mendengarkan pengarahan guru.
d.             Aktivitas gerak, seperti melakukan praktek di tempat praktek.
e.              Aktivitas menulis, seperti mengarang, membuat surat, membuat karya tulis.
Aktivitas kegiatan pembelajaran siswa di kelas hendaknya lebih banyak melibatkan siswa, atau lebih memperhatikan aktivitas siswa. Berikut ini cara meningkatkan keterlibatan siswa :
  1. Tingkatkan partisifasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai teknik mengajar.
  2. Berikanlah materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  3. Usahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa. Untuk itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkannya dengan bahan pembelajaran.
2.             Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran erat kaitannya dengan sifat, bakat dan kecerdasan siswa. Pembelajaran yang dapat menyesuaikan sifat, bakat dan kecerdasan siswa merupakan pembelajaran yang diminati.

3.      Membangkitkan Motivasi Siswa
Motif adalah semacam daya yang terdapat dalam diri seseorang yang dapat mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedang motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Tugas guru adalah bagaimana membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar. Berikut ini beberapa cara bagaimana membangkitkan motivasi siswa :
a)      Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya;
b)      Pada awal kegiatan pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, sehingga siswa terpancing untuk ikut serta didalam mencapai tujuan tersebut.
c)      Guru berusaha mendorong siswa dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
d)      Guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usahanya sendiri;
e)      Guru selalu berusaha menarik minat belajar siswa.
f)       Sering-seringlah memberikan tugas dan memberikan nilai seobyektif mungkin.
4.      Memberikan pelayanan individu Siswa
Perlunya keterampilan guru di dalam memberikan variasi pembelajaran agar dapat diserap oleh semua siswa dalam berbagai tingkatan kemampuan, dan disini pulalah perlu adanya pelayanan individu siswa.
Memberikan pelayanan individual siswa bukanlah semata-mata ditujuan kepada siswa secara perorangan saja, melainkan dapat juga ditujukan kepada sekelompok siswa dalam satu kelas tertentu. Sistem pembelajaran individual atau privat, belakangan ini memang cukup marak dilakukan melalui les-les privat atau melalui lembaga-lembaga pendidikan yang memang khusus memberikan pelayanan yang bersifat individual.

5.      Menyiapkan dan Menggunakan berbagai Media dalam Pembelejaran
Alat peraga/media pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pembelajaran yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung yang yang dibantu dengan sejumlah alat peraga dengan memperhatikan dari segi nilai dan manfaat alat peraga tersebut dalam membantu menyukseskan proses pembelajaran di kelas.
Di dalam menyiapkan dan menggunakan media atau alat peraga, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut :
  • Alat peraga yang digunakan hendaknya dapat memperbesar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diasjikan.
  • Alat peraga yang dipilih hendaknya sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok.
  • Alat yang dipilih hendaknya tepat, memadai dan mudah digunakan.
B.     Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan

1.                  Ciptakan iklim yang nyaman buat anak didik Anda
Iklim yang nyaman akan menghilangkan kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri. Hal ini juga bisa mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga komunikasi antara pendidik dan anak didik dapat terbangun. Sebagai pengajar, Anda dapat menjelaskan kepada siswa bahwa tidak akan ada siswa lain yang akan mengejek ketika ia bertanya. Beri motivasi kepada siswa bahwa dengan bertanya, akan memudahkannya untuk lebih mengetahui tentang sesuatu hal daripada hanya diam mendengarkan.
2.      Dengarkan dengan serius setiap komentar atau pertanyaan yang diajukan oleh siswa Anda.
Jika siswa Anda mengajukan pertanyaan, sebisa mungkin fokus dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri siswa karena ia merasa diperhatikan. Seringkali siswa merasa kurang percaya diri sehingga enggan untuk memberikan kontribusi di dalam kelas. Nah, tugas Anda sebagai pengajar, membangun kepercayaan diri siswa dengan menunjukkan perhatian-perhatian saat siswa merasa sedang ingin didengarkan.
3.            Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa
Anda juga bisa mencoba dengan memuji setiap komentar yang diajukan oleh anak didik Anda. Misalnya, "Oh, itu ide yang sangat bagus" ,atau "Pertanyaan kamu bagus, itu tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”.
4.            Beri pertanyaan yang mudah dijawab
Jika hal di atas belum juga berhasil untuk mengajak siswa memberikan komentar atau pertanyaan, giliran Anda untuk mengajukan pertanyaan memancing yang bisa membuat anak didik Anda tidak lagi bungkam di dalam kelas. Pastikan pertanyaan Anda mampu dijawab oleh siswa, sehingga saat menjawab secara tidak langsung melatih siswa untuk berbicara. Saat siswa sudah mulai merespon, beri senyum kepada siswa yang sudah berkomentar. Hal ini akan mengurangi rasa canggung yang biasa ia perlihatkan.
5.         Biarkan siswa mengetahui pelajaran sebelum kelas dimulai
 Minta agar para siswa mempelajari bahan yang nantinya akan Anda tanyakan. Sehingga, ia akan mempersiapkannya terlebih dulu.  Jika saat anda bertanya dan para siswa tidak merespon, ubah format pertanyaan anda yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".

6.         Controlling
  Kontrol para siswa dengan alat kontrol yang Anda miiliki. Gunanya adalah untuk mengetahui seberapa banyak siswa yang biasanya berpartisipasi dalam kelas. Jika Anda menemukan beberapa siswa yang tingkat partisipasinya dalam kelas sangat kurang, maka ajak ia berkomunikasi secaraa pribadi. Mungkin dengan begitu ia akan merasa percaya diri. Selain itu, jika yang Anda temukan hanyalah permasalahan kurang percaya yang menjadikannya diam selama kelas berlangsung, maka tugas Anda selanjutnya adalah memberi ia tugas yang bisa membantunya untuk berkomunikasi. Misalnya, tugas berpidato dalam kelas.






DAFTAR RUJUKAN



Asep Suryana, (2005), Makalah TECHNOLOGIES FOR RESTRUCTURED CLASSROOMS, disampaikan dalam lokakarya .Universitas Negeri Yogya.
Asep suryana. 2006. Bahan belajar mandiri Manajemen kelas. Universitas Pendidikan Indonesia

Departemen Pendidikan Nasional.2003 Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif.Jakarta Departemen Pendidikan Nasional.

















MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH dan MASYARAKAT dalam MELAKSANAKAN DISIPIN SEKOLAH
A.           Membina Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Sekolah secara formal adalah wadah atau tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang sesuai dan dikehendaki oleh masyrakat dimana sekolah itu berada. Sebaliknya, masyarakat diharapkan membantu dan bekerja sama dengan sekolah agar program sekolah berjalan lanacar dan lulusan yang dihasilkan memenuhi kebutuhan masyarakat dan negara. Oleh sebab itu, hubungan yang saling menguntungkan antara sekolah dan masyarakat perlu dibina dan dikembangkan secara harmonis. Hubungan sekolah dengan masyarakat meliputi hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan instansi terkait, hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat, dan hubungan sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya. (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996: 39 43)
1.      Hubungan sekolah dengan orang tua siswa
Sekolah adalah lemabaga pendidikan yang secara formal dan potensial memiliki peranan paling penting dan strategis bagi pembinaan dan pengembangan generasi muda, khususnya parasekolah dasar. Sedangkan orang tua siswa adalah pendidik pertama dan utama yang sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan dan pengembangan para siswa tersebut. Oleh karena itu, sangat diperlukan hubungan yang harmonis dan terus menerus dan berkelanjutan antara sekolah dan orang tua siswa.
Hubungan sekolah dengan orang tua dapat dijalin melalui sarana wadah perkumpulan orang tua siswa, guru atau tenaga kependidikan lainnya dinamakan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan. Dengan adanya hubungan antara sekolah dan orang tua tersebut maka manfaat yang diharakan diperoleh adalah:
a)      Orang tua siswa mengetahui tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah,
b)      Sekolah mengetahui semua kegiatan orang tua dan para siswa di rumah,
c)      Orang tua siswa mau memberi perhatian yang sangat besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah.
Dengan diketahuinya kegiatan-kegiatan sekolah dan dengan tumbuhnya kesadaran orang tua/wali siswa diharapkan mereka merasa memiliki, mau berpartisipasi, dan mau memberi bantuan dalam melaksanakan semua rencana sekolah, sehingga kualitas lulusan yang diharapkan sekolah dan orang tua/ wali siswa tercapai. Partisipasi tersebut dapat berupa:
·         Memotivasi putra-putrinya untuk belajar dengan baik,
·         Melengkapi semua keperluan belajar putra-putrinya,
·         Mengarahkan putra-putrinya untuk belajar secara teratur pada jam-jam tertentu dan mengatur waktu untuk kegiatan lain di rumah, misalnya nonton TV, bermain, berkunjung kepada keluarga tetangga, atau teman dan sebagainya,
·         Menciptakan suasana yang mendukung dalam keluarga yang dapat mendorong putra-putrinya rajin belajar,
·         Mengawasi dan mengecek putra-putrinya dalam melaksanakanntugas-tugas yang diberikan sekolah,
·         Ikut membantu tegaknya disiplin sekolah,
·         Ikut mendorong putra-putrinya memenuhi tata tertib sekolah,
·         Ikut memberikan perhatian terhadap perkembangan situasi pendidikan sekolah,
·         Memenuhi undangan rapat dan undangan lainnya dari sekolah bagi kepentingan putra-putrinya,
·         Membantu tegaknya wibawa Kepala Sekolah dan para guru,
·         Memberikan saran dan kritik dalam menegakkan wibawa Kepala Sekolah dan Guru,
·         Membentu memlihara nama baik sekolah,
·         Mendorong agar putra-putrinya gemar membaca dan tidak lalai dalam mengerjakan pekerjaan rumah,
·         Mendorong putra-putrinya agar ikut ambil bagian dalam kegiatan ko dan ekstra kurikuler seperti: kesenian, olah raga pramuka, UKS, dan kegiatan lain yang diselenggarakan di sekolah,
·         Mendorong putra-putrinya memelihara kemanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan, serta kerapihan baik di rumah maupun di sekolah,
B.                  Hubungan sekolah dengan Instansi terkait
Sekolah perlu membina hubungan baik secara timbal balik dengan instansi terkait, instansi terkait itu seperti Lurah/ Kepala Desa, Puskesmas, Camat, Polsek, Koramil, LKMD, dan Posyandu. Hubungan yang dijalin dan upaya yang perlu dilaksanakan oleh sekolah, antara lain sebagai berikut:
a.       Menginformasikan program sekolah
b.      Ikut serta dalam kegiatan yang diadakan pemerintah, sepanjang tidak mengganggu proses belajar mengajar,
c.       Pada saat yang diperlukan, Kepala Sekolah atau guru yang ditunjuk mengadakan kunjungan ke Instansi Pemerintah sebagai salah satu cara pendekatan dari pihak sekolah,
d.      Sekali-kali dapat mengundang Pejabat Pemerintah d luar Depdikbud sebagai pembina dalam upacara bendera.
Sedangkan dari pihak instansi terkait diharapkan agar membrikan peran sertanya dalam:
a.       Membantu tegaknya disiplin sekolah,
b.      Ikut membantu terpeliharanya kebersihan dan keindahan sekolah,
c.       Membantu nama baik sekolah,
d.      Memenuhi undangan yang disampaikan pihak sekolah,
e.       Membantu keamanan sekolah pada saat sekolah melaksanakan kegiatn-kegiatan tertentu.
C.    Hubungan sekolah dengan Lembaga Pendidikan lain
Dalam usaha membina dan megembangkan hubungan dengan lembaga pendidikan lain perlu dilaksanakan upaya-upaya berikut:
o   Mengadakan kunjungan antar sekolah untuk saling bertukar pengalaman,
o   Menjalin kerjasama dalam upaya saling mengembangkan pendidikan di sekolahnya masing-masing,
o   Memberikan informasi tentang perkiraan jumlah lulusan sekolah kepada lembaga pendidikan setingkat diatasnya,
o   Mengundang pimpinan lembaga pendidikan yang lebih tinggi tingkatnya untuk memberikan ceramah tentang perkembangan pendidikan sesuai jenjangnya.
D.    Membina Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Sekolah secara formal adalah wadah atau tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang sesuai dan dikehendaki oleh masyrakat dimana sekolah itu berada. Sebaliknya, masyarakat diharapkan membantu dan bekerja sama dengan sekolah agar program sekolah berjalan lanacar dan lulusan yang dihasilkan memenuhi kebutuhan masyarakat dan negara. Oleh sebab itu, hubungan yang saling menguntungkan antara sekolah dan masyarakat perlu dibina dan dikembangkan secara harmonis. Hubungan sekolah dengan masyarakat meliputi hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan instansi terkait, hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat, dan hubungan sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya. (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996: 39 43)
Hubungan sekolah dengan orang tua siswa
Sekolah adalah lemabaga pendidikan yang secara formal dan potensial memiliki peranan paling penting dan strategis bagi pembinaan dan pengembangan generasi muda, khususnya parasekolah dasar. Sedangkan orang tua siswa adalah pendidik pertama dan utama yang sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan dan pengembangan para siswa tersebut. Oleh karena itu, sangat diperlukan hubungan yang harmonis dan terus menerus dan berkelanjutan antara sekolah dan orang tua siswa.
Hubungan sekolah dengan orang tua dapat dijalin melalui sarana wadah perkumpulan orang tua siswa, guru atau tenaga kependidikan lainnya dinamakan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan. Dengan adanya hubungan antara sekolah dan orang tua tersebut maka manfaat yang diharakan diperoleh adalah:
o   Orang tua siswa mengetahui tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah,
o   Sekolah mengetahui semua kegiatan orang tua dan para siswa di rumah,
o   Orang tua siswa mau memberi perhatian yang sangat besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah.
Agar orang tua siswa mengetahi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah, sekolah perlu melaksanakan antara lain hal-hal berikut ini.
Dengan diketahuinya kegiatan-kegiatan sekolah dan dengan tumbuhnya kesadaran orang tua/wali siswa diharapkan mereka merasa memiliki, mau berpartisipasi, dan mau memberi bantuan dalam melaksanakan semua rencana sekolah, sehingga kualitas lulusan yang diharapkan sekolah dan orang tua/ wali siswa tercapai. Partisipasi tersebut dapat berupa:

DAFTAR RUJUKAN


Asep Suryana, (2005), Makalah TECHNOLOGIES FOR RESTRUCTURED CLASSROOMS, disampaikan dalam lokakarya .Universitas Negeri Yogya.
Asep suryana. 2006. Bahan belajar mandiri Manajemen kelas. Universitas Pendidikan Indonesia

M. Entang, T raka Joni an Prayitno, (1985), Pengelolaan Kelas, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud


Komentar

  1. Bagaimana cara menciptakan iklim yang nyaman buat siswa?

    BalasHapus
  2. Artikel nya sangat bagus dan bermanfaat mksh kak.

    BalasHapus
  3. Sebelumnya saya ingin bertanya kak.
    Apa yang harus diperhatikan untuk menciptakan kelas yang efektif ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk menciptakan kelas yang efektif, penulis mengikuti langkah-langkah seperti berikut :
      1. sebelum memulai pembelajaran sebaiknya kita beri motivasi untuk siswa kita
      2. ketika siswa termotivasi untuk bertanya maka kita dengarkan setiap pertanyaan yang diajukan oleh siswa
      2. Dan setelah itu kita sebagai guru jangan terlupa untuk memberi pujian kepada siswa yang aktif, mau bertanya, dan sebagainya .Agar siswa semakin dan semakin antusias lagi dalam belajar.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Izin sedot min, sebagai bahan rujukan.

    BalasHapus

Posting Komentar